Rocky Gerung Sebut Seleksi Komisioner KPU 2022-2027 yang Digelar Tengah Malam Sebagai Biang Keladi Kecurangan

- 17 Februari 2022, 11:45 WIB
Rocky Gerung Sebut Seleksi Komisioner KPU 2022-2027 yang Digelar Tengah Malam Sebagai Biang Keladi Kecurangan.
Rocky Gerung Sebut Seleksi Komisioner KPU 2022-2027 yang Digelar Tengah Malam Sebagai Biang Keladi Kecurangan. /Tangkap Layar YouTube.com/Komisi II DPR RI Channel

KABAR BESUKI - Pengamat politik dan akademisi Rocky Gerung menyebut seleksi Komisioner KPU 2022-2027 pada tengah malam sebagai biang keladi kecurangan.

Rocky Gerung menyampaikan sindirannya terhadap proses seleksi Komisioner KPU 2022-2027 yang digelar hingga tengah malam dengan gaya satire khasnya.

Rocky Gerung mengungkapkan bahwa seleksi Komisioner KPU 2022-2027 digelar tengah malam agar tidak dipantau oleh buruh yang berdemonstrasi di siang hari.

"Jadi terlihat kalau diputusin malam hari itu kerjaan politisi tuh, karena kalau siang hari itu agenda demonstrasi buruh," kata Rocky Gerung sebagaimana dikutip Kabar Besuki dari kanal YouTube Rocky Gerung Official pada Kamis, 17 Februari 2022.

Baca Juga: Rocky Gerung Sebut Proses Legislasi Ibu Kota Baru Sebagai Aktivitas 'Kamar Gelap' yang Tidak Diakui Rakyat

Rocky Gerung juga menilai bahwa dalam beberapa tahun terakhir, KPU menjadi lembaga utama yang diduga masyarakat menjadi pemicu rusaknya tata kelola bernegara.

Pasalnya kata dia, banyak masyarakat menilai KPU telah menjadi biang keladi kecurangan sejak Pemilu 2014 sehingga memicu proses hukum yang panjang hingga ke Mahkamah Konstitusi (MK).

"Tapi sebetulnya, ini soal KPU yang jadi biang keladi sebetulnya karena pemilu kemarin itu seluruh manusia Indonesia menganggap KPU itu curang. Karena itu kemudian proses hukumnya panjang sampai ke Mahkamah Konstitusi," ujarnya.

Baca Juga: Staf KSP Jadi Ketua Pansel Komisioner KPU, Rocky Gerung: Itu Curang, Etika Politik Nggak Dipahami Presiden

Rocky Gerung juga menegaskan bahwa fungsi utama KPU bukan sekedar sebagai pelaksana teknis pemilu semata.

Mantan pengajar di Universitas Indonesia (UI) itu mengungkapkan bahwa KPU harus menjadi edukator politik utama di tengah masyarakat dan harus memiliki fungsi etis yang lebih kuat dibandingkan fungsi teknisnya.

"Jadi sebetulnya, fungsi KPU ini dari dulu bukan sekedar jadi pelaksana teknis pemilu, tapi dia mesti jadi edukator politik. Fungsi etis dari KPU harus mendahului fungsi teknisnya," katanya.

Selain itu, Rocky Gerung juga menyoroti sikap KPU yang meminta kenaikan anggaran, yang menurutnya menimbulkan kesan bahwa KPU hanya sebagai tempat untuk mencari nafkah dan memiliki kapasitas teknis namun minim etika.

"Kemarin juga saya baca beritanya, KPU minta anggaran tiga kali lipat dari Rp25-30 triliun jadi Rp100 sekian triliun. Terlihat bahwa KPU ini tempat orang cari kerjaan aja, dan itu bahayanya kalau sebuah lembaga hanya diduduki oleh orang-orang yang secara teknis punya kapasitas tapi secara etis lemah," ujar dia.

Baca Juga: KPU RI Tegaskan Pemilu 2024 Tetap Dilaksanakan dan Tidak Ditunda Maupun Diundur Ke 2027!

Rocky Gerung juga menceritakan pengalamannya saat membidani KPU pada masa awal reformasi.

Ketika itu, dia mendorong agar KPU menjadi lembaga yang sangat terhormat dan memiliki etika tinggi, sehingga dia pun mendorong agar Komisioner KPU diisi oleh orang-orang terbaik secara etis.

Selain itu, dia juga menegaskan bahwa KPU harus menjadi sarana pencerahan bagi masyarakat sebelum datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

"Karena itu di awal reformasi, KPU kita dorong jadi tempat, sebut aja satu komisi yang betul-betul kedudukan etisnya itu tinggi. Karena itu, dipilihlah orang-orang yang betul-betul bermutu, supaya hendak diberitahu bahwa bangsa ini perlu diberi cahaya pikiran terlebih dahulu, baru masuk ke ruang election," tuturnya.***

Editor: Rizqi Arie Harnoko

Sumber: YouTube Rocky Gerung Official


Tags

Terkait

Terkini